Kukedipkan mataku dan segalanya berubah. Di hadapanku, lembaran soal TIK merongrong pikiranku, menyusup kesetiap celah untuk menemukan sebuah jawaban di kotak memoriku. Tidak ada, mereka tersesat di labirin pikiranku tanpa sebuah kejelasan. Kulayangkan pandanganku pada pintu kelas dan menemukan dia melintas. Hanya sesaat dan mata kami sempat bertemu. Sebuah detak yang sudah lama kurindukan. Euforia kecil untuk kunikmati.
Tapi hampa kembali menyerang. Dengan pedang-pedang kecil di tangan mereka, dan sebuah baju zirah kotor berwarna abu-abu menempel di badan mereka, mereka menyamar dan membunuh setiap keceriaan kecil yang melintas di depan mereka.
Aku kembali sekarat, mati. Kematian yang memikat kehidupan dalam diriku. Dia menyesap setiap sumsum kehidupan dalam diriku. Menikmatinya seakan itu adalah segelas anggur terakhir di dunia.
Apalagi yang bisa kuharapkan? Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku begitu ingin merengkuhmu untuk selamanya. Aku memang tak sekuat yang kalian kira. Aku hanyalah korban lain dari kehampaan dan ambisi yang berlebihan. Menyedihkan, ya, memang menyedihkan. Aku hanya makhluk kegelapan yang mencari cahaya, tapi mati karena tak kuat akan sinarnya. Makhluk lemah yang mencari perlindungan dan tak pernah berusaha untuk menjadi kuat. Makhluk yang mengharapkan sesuatu untuk terjadi tanpa berusaha untuk mewujudkannya. Makhluk yang berharap dan sudah berusaha tapi hanya bisa menemukan kegagalan di sisi lain gunung harapan yang ia buat. Entah apa kata mereka jika mereka semua membaca blog sampah ini. Kasihan? Itu adalah hal terakhir yang aku harapkan. Dan beruntungnya diriku karena aku tak dikenal sebagai seorang penulis ulung, ataupun gadis manis mungil yang baik. Hanya aku, sisi diriku yang menyedihkan yang selalu hanya bisa meratap.
Hmm, susah ya Mal. Antara mau berharap atau berhenti saja, dengan 2 kemungkinan yang mungkin (ya iyalah) pada tiap opsinya. Kalau menurutku, semua pilihan kuserahkan padamu. Kalau kamu mau terus, boleh aja merasa sakit, tapi kamu harus kuat karena itu emang gandengannnya pilihanmu itu. Gak bisa dipisah sebuah resiko itu.
ReplyDeleteDan, kalau kamu mau melupakannya saja karena tidak bisa menahan rasa sakitnya yang luarbiasa, lupakan saja walaupun memang berat. Nggak usah takut dicap yang nggak-nggak sama orang lain, misalnya dibilang mudah menyerah atau apa, mereka sejatinya nggak tahu yang sebetulnya. Ingat, letting go doesn't always mean giving up. It's called CARRYING ON. Dan, berlagaklah tetap ceria setelahnya. FYI, aku lagi pengen membuat si AF iri dalam artian, kalo dia punya pacar so it's fine akupun bisa hidup senang tanpa dia. I still have you, and a bunch of another friends. Semua pilihan cuma kamu yang bisa tentukan. Goodluck with your way ;)
:')
ReplyDeleteThank you very very much, you really know how to comfort me with your own way. I will take your advices, it really helps me a lot, Thanks.
Eh, ya beberapa hari yang lalu dy nge-state 'is in relationship' kan? Ya, ayo berjuang na! Kamu keren banget! Poker face anda sangat keren! I love you!!
Eh, iya to? Aku malah gak tau. Ya terserah dia ah, aku udah nggak mau tau lagi. Oh ya sama-sama, aku cuma bisa bantu itu.
ReplyDelete