'We are in a state of
war.'
'We are in a state of war. And in a war, someone must take others' life so they can't take his/her, So, that's what we're doing right now.'
Well, semua ini bermula dengan undian drama sialan yg dengan seenaknya menempatkan saya di posisi yg sulit, walaupun untuk saat itu saya (sangat, mungkin?) senang bisa berada di posisi itu.
Dan kemarin, karena drama (berakting lebih tepatnya) memang salah satu keahlian dan kesukaan saya, jadi bukan tidak mungkin lagi kalau saya memiliki cukup besar minat dalam pengerjaannya, terlepas dari siapa yg akan berperan apa dan bagaimana jalan ceritanya. Ketika sudah berhadapan dengan layar 12 inci ini untuk membuat prolog dan sebagainya, saya bingung bagaimana harus memulainya. Maka dari itu, saya meng-sms 3 orang anggota kelompok yg lain. Memang, org pertama yg saya kirim adlh the sky, karna dibanding 2 org lainnya, dy yang plg saya kenal dan paling puitis diantara yg lain. Sesudah beberapa lama tidak dijawab, maka saya melanjutkan meng-sms 2 orang lainnya (mungkin tanpa mengharapkan jawaban dari the wind sama sekali) dan seperti yang saya kira, memang hanya 1 orang cwe' lainnya dalam kelompok kami yg akan menjawab. Tapi, saya cukup menikmati percakapan 'kecewekan' kami. Tapi, juga seperti yang sudah saya duga, dy malah tidak mengerti apa itu prolog dan tidak punya ide bagaimana harus mengawali sebuah cerita. Dan akhirnya naskah tak ada kemajuan sama sekali.
Ya, hari ini adalah klimaksnya. Saya sedang menelusuri tulisan-tulisan saya saat berada dalam ujung era the sky dan memasuki era the wind. Hampir (sekitar 96%) semua tulisan itu pernah saya publish di situs jejaring sosial. Ada beberapa lirik lagu yang saya cantumkan disitu dan saya memutarnya kembali untuk mengingat kembali masa-masa itu. Salah satu dari tulisan yang tak terpublish adalah sepenggal lirik lagu 'Princess Dizzy' yang dinyanyikan oleh vokalis favorit saya, Tomo dan band favorit saya, Vistlip yang memang sengaja diketik kakak saya entah karena apa. Dan memang lirik lagu itu adalah salah satu lirik terbaik dari semua lagu yang pernah kudengar. Dan saat itu entah ada apa, para boys yang memang sulit untuk dimengerti tiba-tiba menjadi ribut, terutama anak satu ini, *i*k*, sempat saya mendengar 'Rahasia telah terungkap.' (kurang lebih seperti ini seingat saya) dari mulutnya. Alarm feeling wanita saya tiba-tiba menyala. Saat itu benar-benar kacau. Seperti sesuatu yang telah kubangun tiba2 runtuh. Suasana masih chaos dan getaran yang terjadi karena ada sebuah kendaraan (entah apa. saya pun masih penasaran.) yang sedang bekerja(?), membuat saya semakin lemah. Saat itu saya sedang membuka kembali translate-an dari blog Tomo dan saya tahu, saat itu mungkin saja saya sudah tak tahan lagi. Rasa marah yang tak jelas dan dinginnya AC serta kelemahan yang sudah merasuki diri serta kerinduan. Semuanya tak terbendung lagi dan air mataku keluar begitu saja. Bel berdentang tanda pergantian pelajaran dan air mataku sudah terhapus. Di hadapanku, aku melihat lagi sebuah lirik lagu dari Vistlip, kali ini dengan judul 'Moonlight Snow Rabbit' dan saat saya memutar lagunya, kali ini air mataku keluar banyak dan aku harus menutupi mukaku, tepat saat aku membuka mukaku lagi, the sky sudah akan pergi dan sesaat pikiranku kembali melayang pada beberapa bulan lalu saat hal ini terjadi, disana memang masih ada rani dan grace. Tapi aku tak malu menghapus mukaku yang lengket dan mataku yang merah. Aku mengatakan pada mereka bahwa tidak apa-apa jika mereka ingin duluan. Dan saat aku sudah sendiri dan aku harus membereskan buku-bukuku, diriku yang kuat kembali muncul, WAR!, itu kata pertama yang terlintas di pikiranku. Dan kata-kata diataslah yang saat itu terpampang jelas, aku sedang marah dan begini hasilnya. 'Kau masih punya jalan panjang.' Kalimat itu juga tetap setia mengiringiku setiap kali kejadian seperti ini terjadi. Dan hari ini aku keluar kelas dengan muka tersenyum (topengkah? *smirk*) dan sebuah tekad baja seorang tentara yang akan melenyapkan musuh-musuhnya.
Setelah beberapa lama aku memikirkannya kembali, aku berpikir, 'Ah, Sudahlah! Terserah!'
Tak berapa lama tadi kakak, the sky, meng-smsku mengatakan dia minta maaf karena kemarin dan hari ini tadi dia sibuk dan tak bisa membalas sms-ku. Harus kuakui, dia memang seorang contoh gentleman terbaik yang pernah aku temui, terlepas dari segala hal yang lainnya, dia orang yang sangat baik. Dan yang terbaik, dia bisa membuatku tertawa dan merasa kami teman tanpa harus berpikir apa yang akan orang lain pikirkan jika mereka mengetahui bahwa kami sering sms-an, dy bisa menentukan apa yang sebaiknya tidak dy ceritakan kepada temannya, dan dia menghargai (?)(mungkin? entahlah.) aku.
Ashleeeyyy! Mungkin Friendship memang paling cocok untuk anak seumuran kita ya? I'm waiting for your comment! :DDD