Pages

Wednesday, December 15, 2010

After-effect

Nah! All of that was blown away now. I'm in a war again. He pulls me back when he touches my hands. You can call it after-effect.

Yap. He wakes me up. The pulses come back. Familiar feelings come back. I have to say 'hi' to them now.

Petang ini aku bangun dengan perasaan aneh. Terkejut. Rupanya aku tertidur dari sore hari sampai maghrib. Entah aku mimpi apa. Tapi sesuatu yang telah lama kulupakan, kembali. Memori-memori datang menghantam kesadaranku, membakar otakku, seakan membangunkan aku kembali dari tidur yang panjang, seakan membuatku harus berperang lagi. Aku merindukannya. Sangat. Entah bagaimana aku bisa mengabaikan sebuah keinginan, kebutuhan untuk menemuinya, seseorang yang sekarang sudah berubah. Saat dia menggenggam tanganku, tangannya yang kering menarikku kembali, dari tidur panjang tanpa mimpi, dari zona aman yang berhasil kucapai. Aku ingin sekali menggenggam tangan itu tanpa sekali pun melepaskannya lagi. Aku ingin sekali memeluk siluet itu tanpa sekali pun membiarkannya pergi lagi. Aku benar-benar merindukan wajahnya saat ia tersenyum padaku. Tapi wajahnya saat menggenggam tanganku tak mengatakan hal yang sama. Ia tak tersenyum barang sejengitpun. Mungkin pula aku juga tidak tersenyum. Dan, ya, aku kembali menangis. Lagu 'Save Me' milik Avenged Sevenfold dan 'Don't Let Me Go' milik The Click Five membuatku melepaskan tangisanku. Aku menangis dan menangis, sambil memikirkan mungkin ia tak peduli tentangku. Sebuah tangisan yang diakhiri dengan kelegaan. "Anyone that doesn't cry can't be strong. no matter what happens, after you cry, then you can face the problem better. But, crying when you need to cry is another way to show strength", someone said that. And I found it right.

Aku kemudian berpikir bahwa, selama ini, semuanya selalu berakhir sama. Semua ceritaku selalu berakhir sama. Akulah yang kemudian menderita, akulah yang pada akhirnya menangis. Dan begitu gobloknya aku, mengulangi kesalahan yang sama. Semisal aku tahu kalau semua seperti ini, kenapa aku harus bersusah payah mengulangi tragedi yang terus terjadi berulang-ulang? Bodoh sekali.

No comments:

Post a Comment