Pages

Friday, October 29, 2010

Dream on that afternoon.

Today was Friday and it meant I could go home early. Right after I got home, the first thing I did was sleeping at my room. And that's when that enchanting dream started. I was nearly bump to the sky this morning. And so this dream was about him.
The place was at school in our class. And he worn that batik shirt. The story was really confusing, but the most unforgettable piece of that dream was when one of his finger was burned and me, without thinking twice, took his hand and tried to see it and heal it. I was so panicked at that time, and it seemed that he enjoyed it. Damn! but I can't deny that he looked really cool at that time, when I finally know, his finger was burned because he saved me and my friend. Even my heart beats little faster when I remember that dream and writing that on this post.
So, now each of the sky and the wind can make my heart beats faster. Great! 14 years old girl with her 'experiences' in heart attack.

Thursday, October 28, 2010

Between the sky and the wind.

Still confused. I was really sure with the wind, but not now. And I'm not really sure with the sky too. Maybe, i'm still too young for thing called love.

Monday, October 25, 2010

Bingung.

Aku tak bisa menutupi rasa senang saat aku tahu aku bisa berada di dekatmu hari ini. Saat kita berada bersebalahan dan yang terdengar hanya suara sepatumu yang menggesek lantai, kurasa aku suka suara berdecit-decit itu dan kurasa itu menandakan kau gugup, dan aku berharap bahwa kau memang gugup, karna itu berarti kau merasakan hal yg sama. Dan itu hal yang bagus tentu saja. Tapi, entah kenapa sesekali aku jadi meragukan perasaanku sendiri. Mungkin ini sesuatu yang normal, dan mungkin aku hanya perlu menunggu dan melihat apa yang akan terjadi. Mungkin. Semoga Allah memberi jalan untuk kami dan semoga Dia selalu melindungi semua orang yang kucintai. Amin.

Friday, October 22, 2010

Murasaki Yuujin

Hanya dua kata yang bisa kuungkapkan :
Terima kasih . . .

Thursday, October 21, 2010

Jauh di kedalaman laut

Sungguh! Hari ini aku seperti terpaksa berlari ke kedalaman laut dari kejaran hiu-hiu. Tekanannya yang begitu besar dan kuat seakan ingin meremukkan setiap senti daging dan tulang ditubuhku. Bagaimana seorang manusia biasa tanpa insang ini dapat bertahan? Entahlah.
Beban yang kurasakan memang tak seberapa jika dibandingkan dengan para tahanan yang menunggu ajalnya. Hanya beban seorang siswa SMP dengan segala masalah pubernya. Tapi, entah kenapa beban dan tekanan itu terus menumpuk, bagai rumah reyot, seringkali aku tak mampu menahan bendungan air mata.
Dan seperti hari ini, setiba di rumah, bantal berwarna terang di atas tempat tidur menjadi korban dari tetesan air mata yang mengalir perlahan dari mataku. Tak jarang badanku ikut bergetar seakan badanku ingin luluh mengikuti tetesan air mataku.
Dialah sumber utama segala keanehan dalam tubuhku. Hormon stress dan hormon endorfin dalam tubuhku seakan ingin berlomba-lomba untuk menguasai diriku jika aku berada di dekatnya ataupun berpikir tentangnya. Memang, dia tak melakukan apapun, hanya aku yang sibuk berpikir begini, begitu dan berbuat begini begitu. Tapi dia tetap tak bergeming. Hanya aku, memang hanya aku. Seperti orang bodoh saja.
Tak hanya itu, tekanan aku harus belajar agar mendapat nilai bagus karena sudah kelas 9, seorang ibu guru yang sepertinya tidak menyukaiku dan berimbas pada nilaiku. Tekanan dari orang tua. Rasa mengecewakan dan dikewakan oleh diriku sendiri.
Dan yang terpenting,
KEHAMPAAN
Aku tak tahu kenapa aku mulai merasakan kejenuhan dan kehampaan pada arti hidupku saat ini. Aku merasa tak punya alasan ataupun tujuan lebih kuat untuk berjalan lebih jauh, mungkin setelah membaca ini aku akan berubah pikiran, tapi, hanya untuk saat ini, aku merasakannya. Kejenuhan pada dia, pada perasaanku, pada segala ketidakpastian, pada segala tekanan. Semuanya dikompres menjadi satu di otak seorang anak yang berusia 14 tahun, sungguh ironis. Stress. Itulah kata yang tepat. Mengerikan, seorang anak 14 tahun yang puber dan stress.