Beban yang kurasakan memang tak seberapa jika dibandingkan dengan para tahanan yang menunggu ajalnya. Hanya beban seorang siswa SMP dengan segala masalah pubernya. Tapi, entah kenapa beban dan tekanan itu terus menumpuk, bagai rumah reyot, seringkali aku tak mampu menahan bendungan air mata.
Dan seperti hari ini, setiba di rumah, bantal berwarna terang di atas tempat tidur menjadi korban dari tetesan air mata yang mengalir perlahan dari mataku. Tak jarang badanku ikut bergetar seakan badanku ingin luluh mengikuti tetesan air mataku.
Dialah sumber utama segala keanehan dalam tubuhku. Hormon stress dan hormon endorfin dalam tubuhku seakan ingin berlomba-lomba untuk menguasai diriku jika aku berada di dekatnya ataupun berpikir tentangnya. Memang, dia tak melakukan apapun, hanya aku yang sibuk berpikir begini, begitu dan berbuat begini begitu. Tapi dia tetap tak bergeming. Hanya aku, memang hanya aku. Seperti orang bodoh saja.
Tak hanya itu, tekanan aku harus belajar agar mendapat nilai bagus karena sudah kelas 9, seorang ibu guru yang sepertinya tidak menyukaiku dan berimbas pada nilaiku. Tekanan dari orang tua. Rasa mengecewakan dan dikewakan oleh diriku sendiri.
Dan yang terpenting,
KEHAMPAAN
Aku tak tahu kenapa aku mulai merasakan kejenuhan dan kehampaan pada arti hidupku saat ini. Aku merasa tak punya alasan ataupun tujuan lebih kuat untuk berjalan lebih jauh, mungkin setelah membaca ini aku akan berubah pikiran, tapi, hanya untuk saat ini, aku merasakannya. Kejenuhan pada dia, pada perasaanku, pada segala ketidakpastian, pada segala tekanan. Semuanya dikompres menjadi satu di otak seorang anak yang berusia 14 tahun, sungguh ironis. Stress. Itulah kata yang tepat. Mengerikan, seorang anak 14 tahun yang puber dan stress.
Aw, man, I'm sure it's hard. Padahal masalah crush itu labil sekali ya, maksudku, kalo udah gak mood gara-gara itu semua jadi ancur-ancuran. Dan tentang guru, sungguh ngeri. Slow but sure everything's gonna be fine, even if you don't have any idea about how by this time. God's got the way for us.
ReplyDelete